11.15.2016

Setya Novanto tegur Ical karena demo Ahok

Setya Novanto tegur Ical karena demo Ahok
Setya Novanto jadi pembicara di Parlemen. ©2016 merdeka.com/muhammad luthfi rahman


DPP Partai Golkar melayangkan surat teguran kepada Ketua Dewan Pembina Golkar Aburizal Bakrie atau Ical. Surat bernomor B-834/Golkar/XI/2016 menyikapi pernyataan pers dari Dewan Pembina Golkar terkait aksi akbar gabungan ormas keagamaan 4 November lalu. Ical dan jajaran Dewan Pembina melakukan konferensi pers pada tanggal 8 November 2016.

Surat tersebut ditandatangani Ketua Umum DPP Golkar Setya Novanto dan Sekjen Idrus Marham, dikeluarkan pada 9 November 2016. Koordinator Bidang Polhukam DPP Partai Golkar Yorrys Raweyai membenarkan adanya surat teguran itu.

"Ada. Saya sih terus terang baru sampai semalam, saya mengikuti itu yang saya baca substansinya itu enggak salah, cuma caranya," kata Yorrys saat dihubungi, Selasa (15/11).

Yorrys menegaskan, keputusan di level DPP hanya satu suara. Bila ada persoalan maka Dewan Pakar atau Dewan Kehormatan Golkar melakukan pembahasan dengan DPP Golkar secara internal dan bukan untuk dikonsumsi publik.

"Artinya kita bicara DPP itu satu, kalau ada masalah-masalah baik itu Dewan Pakar, Dewan Kehormatan, itu kan sifatnya internal, memberikan pertimbangan ke dalam bukan ke luar," tegasnya.
surat teguran setya novanto buat ical 2016 Merdeka.com/istimewa



Persoalan ini, katanya, hanya masalah etika dalam berpolitik. Untuk itu, dia menjelaskan DPP Partai Golkar memiliki hak untuk menegur Ical agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

"Jadi kalau mereka membuat pernyataan itu, sebetulnya masalah etika saja. Kan enggak boleh, kalau DPP mau menegur itu hak, boleh-boleh saja, supaya ke depan jangan lagi begitu kan," tutur Yorrys.

Ditambahkannya, DPP Golkar telah menggelar pertemuan dengan Dewan Kehormatan, Dewan Pembina dan Dewan Pakar pada 10 November 2016. Pertemuan itu bertujuan meminta masukan terkait refleksi akhir tahun dan dinamika politik terkini.

"Iya, karena begini, DPP sendiri itu ada bikin kegiatan yang kemarin tanggal 10 November, mengundang semua, tiga lembaga itu (Dewan Kehormatan, Dewan Pembina, Dewan Pakar) kita diskusi meminta masukan dalam refleksi akhir tahun dan dinamika politik terkini," jelas dia.

Akan tetapi, Dewan Pembina baru memberikan sikapnya dan belum memberikan langkah dan solusi dalam pengambilan keputusan DPP partai Golkar.

"Kita belum bikin, dewan pembina sudah menyampaikan (sikap). Substansinya betul, cuma caranya saja," tambahnya.

Berikut isi surat teguran dari DPP Golkar tertanggal 9 November 2016 kepada Ketua Dewan Pembina Golkar, Aburizal Bakrie:

Dengan hormat,

Setelah mencermati pernyataan pers Dewan Pembina DPP Partai Golkar yang disampaikan pada tanggal 8 November 2016, DPP Golkar langsung menggelar rapat harian terbatas. Dalam rangka merespon pernyataan pers tersebut dan disepakati untuk disampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Bahwa substansi terkait peristiwa unjuk rasa tanggal 4 November 2016 sudah disampaikan Ketua Umum DPP Golkar dalam pidato politik pada peringatan HUT Partai Golkar ke-52 di Surabayatanggal 6 November 2016.

2. Pernyataan Pers yang disampaikan melalui siaran TVOne dan disiarkan ulang melalui media elektronik tersebut tidak perlu dilakukan oleh Dewan Pembina DPP Partai Golkar, karena di samping bertentangan dengan Anggaran Dasar pasal 25 dan Anggaran Rumah Tangga pasal 21 juga bisa mengganggu keharmonisan antara DPP Partai Golkar dengan Dewan Pembina DPP Partai Golkar yang selama ini telah berjalan dengan baik.

3. DPP Golkar telah menentukan pertemuan dengan Dewan Pembina, Dewan Kehormatan dan Dewan Pakar pada 10 November untuk mendapatkan masukan mengenai berbagai masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai bahan refleksi akhir tahun.

4.Ke depan, DPP Partai Golkar berharap agar hubungan dengan Dewan Pembina tidak hanya berjalan harmonis sesuai aturan organisasi tetapi juga produktif.

[rnd]
https://www.merdeka.com/politik/setya-novanto-tegur-ical-karena-demo-ahok.html

10.23.2016

Ahmad Dhani: Menurut Saya Yang Bela Ahok Tolol

Bagai air dan api, perseteruan antara Ahmad Dhani dan Ahok seakan tak kunjung berakhir. Bahkan, Dhani pun kerap menyindir Ahok secara langsung maupun lewat social media. Seperti yang terbaru, ia pun memberikan konfirmasi mengenai cuitannya di Twitter tentang Ahok.
"Iya, karena menurut saya yang bela Ahok tolol emang. Udah jelas dia menistakan agama kok dibela. (Soal demo kemarin) Pendapatnya, ini ujian buat Pemerintah. Kalo Pemerintah nggak memenjarakan ahok, berarti Pemerintah gagal. Dalam artian menegakkan keadilan," ujar Dhani saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu (16/10).
Bagi Ahmad Dhani, sebuah kegagalan apabila Pemerintah tidak memenjarakan Ahok © KapanLagi.com/Budy Santoso
Bagi Ahmad Dhani, sebuah kegagalan apabila Pemerintah tidak memenjarakan Ahok © KapanLagi.com/Budy Santoso

10.15.2016

NewsIni Alasan Marwah Daud yang Berpendidikan Tinggi percaya Dimas Kanjeng

1
Psikolog Dr MG Bagus Ani Putra menilai kondisi masyarakat yang mengalami ‘materialistic value oriented’ (MVO) atau menghargai materi secara berlebihan itu menyuburkan fenomena Padepokan “Dimas Kanjeng” Probolinggo yang dipimpin Taat Pribadi.
“Itu sebenarnya bukan fenomena baru, namun MVO itu terjadi sejak era industrialisasi atau sekitar tahun 1970-an,” kata ahli psikologi sosial dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu di Surabaya, Minggu (9/10).
Menurut dosen Fakultas Psikologi Unair itu, MVO (nilai-nilai materialistik) itu menggerus nilai-nilai sosial bangsa Indonesia, seperti gotong royong, sukarela (tanpa pamrih), dan ‘gugur gunung’ (kerja bakti bersama).
“Nilai-nilai itu sudah digantikan dengan materi sebagai ukuran, karena itu fenomena Dimas Kanjeng pun terjadi terus-menerus, meski tidak pernah ada yang terbukti, seperti Uang Logam Bung Karno, Uang Brazil, Peti Nyai Roro Kidul, dan semacamnya,” katanya.
Ditanya solusi untuk keluar dari serangkaian kebodohan dengan fenomena serakah itu, Bagus yang pernah menjabat Kepala Humas Unair itu menyatakan masyarakat seharusnya memberikan sanksi sosial seperti dikucilkan.
“Bukan seperti sekarang yang justru dimaklumi, karena keberadaan Padepokan Dimas Kanjeng yang dimanfaatkan membuka kantin, lahan parkir, menjadi petugas pengaman, dan sebagainya, sehingga Dimas Kanjeng merasa benar dan berterima oleh masyarakat,” katanya.
Secara tidak sengaja, sikap berterima dari masyarakat itu justru menjadi legitimasi bagi Dimas Kanjeng, sehingga dia dapat memiliki tiga modal yakni informational power, media sosial, dan kredibilitas internal-eksternal.
“Modal informational power atau kekuatan informasi adalah informasi yang beredar dari pengikut kepada masyarakat, seperti dia memiliki kehebatan ini-itu, lalu media sosial juga mempromosikan, seperti Youtube,” katanya.
Selain itu, dia juga memiliki kredibilitas internal, seperti jubah, celak, berwajah Arab, dan sebagainya, sedangkan kredibilitas eksternal yang dimiliki antara lain memajang foto bersama tokoh seperti Dahlan Iskan, Jokowi, dan sebagainya.
Oleh karena itu, dia menyarankan pemerintah, tokoh agama, dan tokoh pendidikan untuk segera bersikap, karena masyarakat yang menjadi korban semakin banyak dan Dimas Kanjeng juga melecehkan agama, seperti Shalawat Fulus dan Kun Fa Yaqun.
“Pendidikan juga harus berbenah, seperti pendidikan agama tidak hanya mengajarkan agama secara normatif, seperti shalat, puasa, dan sejenisnya, melainkan agama hendaknya diajarkan secara moralitas, seperti ahlak yang ‘rahmatan lil alamin’,” katanya.
Bagus Ani Putra menambahkan pendidikan agama (akhlak) itu penting, karena pengaruh Dimas Kanjeng itu tidak hanya menimpa masyarakat menengah ke bawah, namun juga masyarakat kelas atas dan intelektual, seperti Marwah Daud.
“Kalau orang kaya terpengaruh itu berarti mengalami ‘greedy phenomenon’ atau fenomena keserakahan, sehingga terjadi ‘loss of novelty’ (hilang kenikmatan) dengan uang yang sudah banyak tapi ingin lebih banyak lagi,” katanya.
Sementara itu, kalau orang intelektual yang terpengaruh berarti mengalami ‘mindlessness condition’ atau logika yang turun, sehingga emosi yang naik. Marwah Daud misalnya yang bergelar Doktor dan PhD.
“Emosi naik itu hukum alam atau sunnatullah, sehingga orang marah (negatif) dan orang bahagia (positif) akan menjadi tidak bisa logis. Nah, Marwah Daud mengalami mindlessness condition atau logika yang turun, sehingga emosinya mudah menerima Dimas Kanjeng,” katanya.