7.20.2016

Perburuan panjang Santoso hingga akhirnya ditembak mati

Perburuan panjang Santoso hingga akhirnya ditembak mati

Merdeka.com - Gembong teroris paling dicari di Indonesia dan Amerika, Abu Wardah alias Santoso akhirnya tewas saat baku tembak di dalam hutan. Perburuan cukup panjang itu setelah Operasi Tinombala dikerahkan dengan ribuan prajurit TNI dan Polri.

Perburuan terhadap Santoso dimulai sejak 2007. Dia dituding sebagai otak pembunuhan dan mutilasi terhadap tiga siswi SMK di Poso, disusul kasus pembunuhan terhadap sejumlah polisi yang dikuburkan dalam satu lubang. Sudah hampir satu dekade dia bergerilya menghadapi polisi dan TNI.


"Pertama awalnya hanya Polisi, kemudian Densus, kalau anda tahu sebagian Polisi lain bahkan Polda sebagian juga banyak yang mengatakan bersama BNPT supaya dapat donatur dari internasional dan sebagainya. Itu banyak isu itu, itu tidak pernah kita tanggapi isu itu," kata mantan Kepala BNPT Ansyaad Mbai beberapa waktu lalu.

Santoso merupakan pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang dibaiat secara langsung oleh Abu Bakar Baasyir, laiknya Jemaah Anshorut Tauhid (JAT). Setelah itu, dia mulai memperkenalkan dirinya dengan membuat video dan menyebarkannya melalui jejaring sosial.

Perjalanan terornya bermula di tahun 2009, ketika Noordin M Top tertangkap pasca-peledakan bom Marriott dua. Kejadian itu membuat Jemaah Islamiah dan JAT lumpuh, hingga tersebar dalam kelompok-kelompok kecil seperti jamur. 

Akhir 2009, tokoh-tokoh utama teroris itu yang dipenjara mulai dibebaskan, salah satunya Abu Bakar Baasyir, dan Mustofa dan yang lain-lain. Sedang di Filipina ada Dul Matin serta Umar Patek.

"Akhirnya mereka sepakat bagaimana mereunifikasi gerakan ini, artinya mengumpulkan dana segala macam dan di situ lah Abu Bakar Baasyir kena mendanai itu. Ada bukti hukumnya. Dia ada keterkaitan dengan pelatihan di Jantho Aceh, pelatihnya adalah Mustofa dan pendanaannya adalah Abu Bakar Baasyir dari berbagai sumber," ungkapnya.

Sayangnya, upaya polisi untuk menghentikan teror tersebut tak sepenuhnya berhasil, sebab ada beberapa orang yag berhasil lolos. Dari mereka, ada yang terlibat dalam kasus perampokan CIMB Medan, serta pembantaian di Polsek Hamparan Perak. Hingga tumbuhnya sel terorisme di Klaten, Jawa Tengah. Rangkaian perampokan dan pembunuhan tersebut disimpan dan digunakan sebagai dana pelatihan calon anggota baru, tempat yang dipilih adalah Poso.

Meski begitu, polisi meyakini Santoso bukan putra daerah melainkan pendatang di Poso. Sebelum terliat dalam organisasi teror, dia pernah tertangkap karena mencuri sepeda motor, namun dibebaskan setelah menjalani hukuman. Walaupun sudah membaiat diri dengan menyatakan bergabung dengan kelompok Negara Islam Iraq dan Suriah (ISIS), namun pengaruhnya masih jauh di bawah Abu Jandal serta Bahrun Naim, otak pemboman di Jalan MH Thamrin, Jakarta.

Terkait tudingan Santoso hanya rekaan polisi, Ansyaad memandang adanya trauma di masa lalu yang membuat orang menjadi apatis terhadap tindakan polisi. Apalagi, propaganda itu semakin kencang setelah disebarluaskan oleh kelompok-kelompok radikal di Indonesia.

"Iya ada propaganda dari kelompok radikal. Ini bukan hanya saja di kalangan bawah tetapi juga sudah sampai tahap politisi ada, di intelektual ada. Pemahamannya sudah sampai tahap itu, skeptisisme masa lalu," tutupnya.

Operasi awal perburuan Santoso adalah Camar Maleo bahkan sudah sampai IV. Setelah Operasi Camar Maleo IV berakhir, perburuan para teroris itu akan tetap dilanjutkan dengan Operasi Mandiri Polda Sulteng, sambil menunggu keputusan Mabes Polri soal kelanjutan Operasi Camar Maleo.

Selama operasi I-IV digelar dari Januari 2015 sampai Januari 2016, polisi telah menangkap 24 orang teroris. Tujuh anak buah pimpinan Mujahidin Indonesia Timur itu tewas dan 17 lainnya sedang dalam proses hukum.

Polisi juga menyita sejumlah barang bukti kegiatan terorisme seperti senjata api, amunisi, bom rakitan, bahan pembuat bom, pakaian, senter, pakaian dan bendera ISIS, serta banyak benda lainnya.

Operasi ini juga mengakibatkan dua polisi dan seorang anggota TNI gugur, dan empat polisi luka-luka. Polisi harus keluar masuk hutan dan naik turun gunung mengejar para teroris.

Dari seribu personel Brimob Mabes Polri diperbantukan ke Polda Sulteng buat operasi itu, telah ditarik 300 personel buat penggodokan dan akan dikembalikan lagi ke Poso. Sementara 700 anggota TNI semuanya telah ditarik ke kesatuan masing-masing.

Dengan selesainya operasi Camar Maleo IV, perburuan teroris di Poso dilanjutkan dengan operasi mandiri Polda Sulteng dengan sandi 'Tinombala'. Operasi Tinombala pun sukses setelah berbulan-bulan Santoso ditemukan dan ditembak mati.
[eko]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar